Ketika kita diperhadapkan dengan slogan Stop Dreaming Start Action, justru akan timbul banyak pertanyaan seputar kalimat tersebut. Misteri kesuksesan dengan berbagai fase yang ada kemudian dengan segera muncul kepermukaan. Dengan kalimat Stop Dreaming Start Action, saya mencoba mengurai beberapa fase dalam kehidupan yang seringkali kita temui. Namun ada beberapa pertanyaan yang harus saya ajukan dahulu sebagai pembuka artikel Stop Dreaming Start Action ini. Pertanyaan tersebut adalah :
1. What is Your Dreaming ?
2. Is Succes include on your Dreaming ?
3. What true definision Succes on your dreaming ?
Saya stop dulu daftar pertanyaan yang ada sehingga kita bisa fokus untuk mengurai pertanyaan demi pertanyaan yang ada. Lets start talk about Dreaming ! Setiap dari kita pasti punya mimpi dan cita-cita. Dreaming itu berkembang seiring perkembangan waktu. Ada yang ketika kecil bermimpi menjadi seorang nelayan, namun ketika memasuki sekolah tingkat atas ia ingin menjadi seorang Diplomat. Ada juga mimpi seorang bocah yang ingin menjadi seorang Pilot namun ketika ia dewasa, ia ingin menjadi seorang akuntan. Perkembangan dreaming inilah yang juga menyebabkan sebuah definisi yang berubah mengenai succes.
Secara umum definisi kesuksesan adalah mendapatkan apa yang kita ingini. Namun pertanyaannya, apakah definisi itu salah ? Untuk menjawab itu mari kita lihat dari pendekatan yang lebih dalam. Manusia diciptakan sebagai seorang makhluk pribadi dan sosial. Karena itulah setiap apa yang ia lakukan tidak bisa lepas dari orientasi kepuasan pribadi walaupun ia tidak bisa melepaskan diri untuk selalu memperhatikan lingkungan disekitarnya. Tidak terkecuali dalam mengejar mimpi, manusia seringkali menempatkan kepentingan kepuasan pribadi terlebih dahulu dan kemudian melakukan loncatan untuk melihat hal tersebut didalam kehidupan bersosialnya.
Ketika Thomas Alfa Edison menciptakan bola lampu, apakah yang ada dalam pikirannya ? Untuk kepuasan ia pribadi ataukah demi masyarakat luas yang merindukan penerangan secara permanen ? Saya pikir kepuasan pribadi dari Alfa Thomas Edisson lah yang membuat ia terus bertahan dari setiap kegagalan yang ia alami saat menciptakan bola lampu. Namun, karena obsesi besarnya tersebut, saat ini kita bisa menikmati cahaya dari sebuah benda yang kita namakan lampu.
Inilah yang saya maksudkan bahwa nilai kesuksesan yang berorientasi pada diri sendiri itu tidak salah karena pasti setiap apa yang kuta hasilkan, akan bisa dinikmati oleh orang lain. Namun yang salah ialah jika obsesi kesuksesan tersebut "hanya" berorientasi pada diri sendiri dan tidak pernah melihat dampak apa yang kita lakukan untuk lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh paling sederhana dari hal ini adalah ketika seorang siswa "nyontek" tanpa ijin pada saat ujian demi obsesinya mendapat nilai baik yang bisa membantunya dalam kelulusan, namun disatu sisi ia tidak "mau tahu" dengan dampak dari siswa yang ia "contek". Dampak yang kemungkinan bisa terjadi adalah pengawas mengetahui hal tersebut dan menghukum, baik siswa yang "mencontek" dan siswa yang "dicontek".
Inilah sebuah "obsesi kesuksesan" yang "hanya" berorientasi pada diri sendiri tanpa melihat dampak bagi orang lain disekitarnya. Contoh kecil itu adalah sebuah contoh sederhana dari berbagai macam contoh yang lebih besar yang seringkali kita lihat di media massa atau elektronik, bagaimana sebuah tujuan pribadi menyebabkan orang lain menjadi sengsara dan menderita. Inilah sebuah efek definisi dreaming yang harus mulai kita luruskan, agar mimpi itu bisa bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain disekitar kita. Sukses adalah mengetahui pada seseorang telah hidup lebih mudah karena keberadaan kita. Lets to Stop Dreaming Start Action untuk hidup yang lebih baik. Nantikan pembahasan Stop Dreaming bag 2 pada artikel selanjutnya untuk membahas mengenai action apa yang harus kita lakukan agar mimpi ( dreaming ) itu tidak meleset dari target.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar